1. Pengertian Penyakit

Istilah “asma” berasal dari bahasa Yunani, yang memiliki arti “sukar bernapas”.

Asma adalah penyakit yang disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam – macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih – lebihan dari kelenjar – kelenjar di mukosa bronchus (Brunner & Suddarth ; 2001)

Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).

Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996).

Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001)

Asma ialah meningkatnya iritabilitas cabang-cabang bronkus disertai penyempitan saluran nafas yang tiba-tiba, yang dapat kembali secara spontan atau setelah pengobatan. ( J.C.E. Underwood ; 1999)

Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakhea dan bronkhus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah – ubah secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan ( The American Thoracic society , 1962 )

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas.

  1. Etiologi Penyakit

Adapun beberapa faktor penyebab yang menimbulkan terjadinya asma:

  1. Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)

–         Reaksi antigen-antibodi

–         Inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)

  1. Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi)

–         Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal

–         Fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur

–         Iritan : kimia

–         Polusi udara : CO, asap rokok, parfum

–         Emosional : takut, cemas dan tegang

–         Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

Faktor lain yang dapat menimbulkan asma yaitu:

a.   Faktor Predisposisi

–         Genetik

  • Yang diturunkan adalah bakat alergi meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus.

b.   Faktor Presipitasi

–     Alergen

Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Contoh: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri, dan polusi.
  • Ingestan, yang masuk melalui mulut. Contoh: makanan dan obat-obatan
  • Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contoh: perhiasan, logam, dan jam tangan.

–    Perubahan cuaca

Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin, serbuk bunga, dan debu.

–    Stress

Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus asma dan memperberat serangan asma yang sudah ada. Penderita diberikan motivasi untuk menyelesaikan masalah pribadinya karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.

–     Olah raga/aktivitas jasmani yang berat

Sebagian besar penderita akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma.

Asma dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis besar pembagian asma yaitu :

a. Asma atopik

Asma atopik dipicu oleh berbagai bahan di sekelilingnya yaitu debu, serbuk bunga, makanan, dan produk binatang misalnya : kotoran serangga rumah. Sering ditemukan riwayat asma, hay fever atau eczema atopik. Penderita dengan asma atopik dapat juga menderita gangguan atopik seperti hay fever atau eczema.

b.  Asma non-atopik

Asma non-atopik berhubungan dengan infeksi traktus respiratorius yang berulang, terutama pada bronkitiskronis, dan tak diperantarai secara imunologis. Tes untuk allergen pada kulit memberikan hasil negative. Konstriksi bronkus dapat disebabkan oleh iritasi lokal pada penderita dengan reaksi saluran nafas yang tidak biasa.

c. Asma akibat rangsang aspirin

Penderita dengan asma jenis ini dapat juga mempunyai rhinitis yang berulang-ulang disertai polip nasal, dan urtikaria kulit. Mekanisme induksi asma oleh aspirin belum diketahui, mungkin mengenai secara lokal karena turunnya prostaglandin atau meningkatnya leukotrin yang menyebabkan iritabilitasi saluran nafas.

d. Asma okupasional

Asma okupasional dirangsang oleh hipersensitivitas terhadap agen yang terhisap di tempat kerja. Agen yang terhisap dapat beraksi sebagai rangsang yang non-spesifik menyebabkan serangan asma pada mereka yang mempunyai saluran nafas hiper-reaktif, atau dapat beraksi sebagai agen yang mampu merangsang terjadinya asma dan hiper-reaktivitas saluran nafas. Ditemukan bermacam-macam agen yang berbeda yang terhisap, dapat menyebabkan terjadinya asma. Mekanisme reaksi saluran nafas diperkirakan merupakan kombinasi dari hipersensitivitas tipe I dan tipe III.

e. Alergi bronkopulmonalis aspergilus

Penyakit ini menyebabkan terjadinya asma dan diakibatkan menghirup spora jamur aspergillus fumigatus, yang merangsang langsung reaksi hipersensitivitas tipe I dan tipe III kompleks imun lambat. Gumpalan mucus dalam bronkus mengandung hifa dari aspergillus.

Tingkatan pada penderita asma:

  1. Tingkat I Secara klinis normal, tanpa kelainan pemeriksaan fisik maupun fungsi paru. Pada penderita ini timbul gejala bila ada faktor pencetus
  2. Tingkat II Penderita tanpa keluhan dan kelainan pada pemeriksaan fisisk tetapi fungsi paru menunjukan obstruksi jalan nafas dan sering ditemukan setelah sembuh dari asma.
  3. Tingkat III Pada penderita tanpa keluhan tetapi pada pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukan kelainan yaitu obstruksi jalan nafas, biasanya pasien yang telah sembuh dari asma tetapi tidak berobat secara teratur
  4. Tingkat IV Penderita sesak nafas, nafas berbunyi pada pemeriksaan fisik dan obstruksi jalan nafas
  5. Tingkat V Penderita pada stadium status asmatikus dimana keadaan asma berat dan perlu pertolongan medis darurat.
  1. Patofisiologi Penyakit

Asma adalah obstruksi jalan nafas yang disebabkan oleh kontraksi otot-otot yang mengelilingi bronki, pembengkakan membrane yang melapisi bronki, pengisian mukus kental. Akibatnya beban alveoli menjadi meningkat dan dinding alveoli menebal seta menjadi hiperinflasi pada alveoli. Hal ini menyebabkan udara terperangkap di dalam jaringan paru (CO2 terjebak di dalam darah, O2 tak bisa masuk), inilah yang menyebabkan obstruksi saluran nafas. Pada beberapa individu, system imunologis mengalami kelainan sehingga mengalami respon imun yang buruk, di mana IgE menyerang sel-sel mast (yang bertugas memfagosit sel-sel radang kronis) dan menyebabkan reaksi antigen-anibodi. Hal ini menyebabkan proses mediator kimiawi yaitu pelepasan dari produk-produk sel mast, seperti histamine, bradikinin, prostaglandin, dan anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan–pelepasan tersebut mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas sehingga menyebabkan bronkospasme. System saraf otonom mempengaruhi paru. Tonus otot bronkial diatur melalui saraf parasimpatis. Ketika ujung saraf pada jalan nafas dirangsang infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi, polutan, maka jumlah asetilkolin menjadi meningkat.

Stimulasi reseptor – alfa mengakibatkan penurunan siklik adenosine monofosfat yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronco konstripsi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru.

  1. Manifestasi Klinis

Adapun gejala yang dapat ditimbulkan dari penyakit asma yaitu:

  • Wheezing
  • Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesoris tambahan pernafasan cuping hidung, retraksi dada, dan stridor.
  • Batuk kering (tidak produktif) karena sekresi kental dan lumen jalan nafas.
  • Tachipnoe, ortopnea
  • Gelisah
  • Diaphorosis
  • Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan
  • Fatigue
  • Tidak toleran terhadap aktivitas, makan, bermain, berjalan bahkan bicara.
  • Kecemasan, labil, dan perubahan tingkat kesadaran
  • Meningkatnnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest)
  • Serangan yang tiba-tiba atau berangsur-angsur
  1. Komplikasi

Berbagai komplikasi yang mungkin timbul pada asma adalah :

  • Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
  • Chronik persistent bronchitis
  • Status asmatikus
  • Atelektasis
  • Hipoksemia
  • Pneumothoraks
  • Emfisema
  • Bronchiolitis
  • Pneumonia
  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium.

a Pemeriksaan sputum

Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:

  • Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari Kristal eosinopil.
  • Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang
    bronkus.
  • Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
  • Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.

b Pemeriksaan darah.

  • Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi

hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.

  • Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
  • Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana

menandakan terdapatnya suatu infeksi

  • Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu

serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.

Pemeriksaan Radiologi

Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:

a. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.

b. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan

semakin bertambah.

c. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru.

d. Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.

e. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium,

maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.

Pemeriksaan tes kulit

Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.

Elektrokardiografi

Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :

a. Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan

clock wise rotation.

b. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right

bundle branch block).

c. Tanda-tanda hipoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES

atau terjadinya depresi segmen ST negative.

Scanning Paru

Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.

Spirometri

Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.

  1. Pencegahan

Serangan asma dapat dicegah jika faktor pemicunya diketahui dan bisa dihindari. Serangan yang dipicu oleh olahraga bisa dihindari dengan meminum obat sebelum melakukan olahraga.

Ada usaha-usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah datangnya serangan penyakit asma, antara lain :

  1. Menjaga kesehatan
  2. Menjaga kebersihan lingkungan
  3. Menghindarkan faktor pencetus serangan penyakit asma
  4. Menggunakan obat-obat antipenyakit asma

Setiap penderita harus mencoba untuk melakukan tindakan pencegahan. Tetapi bila gejala-gejala sedang timbul maka diperlukan obat antipenyakit asma untuk menghilangkan gejala dan selanjutnya dipertahankan agar penderita bebas dari gejala penyakit asma.

  1. Menjaga Kesehatan

Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak terpisahkan dari pengobatan penyakit asma. Bila penderita lemah dan kurang gizi, tidak saja mudah terserang penyakit tetapi juga berarti mudah untuk mendapat serangan penyakit asma beserta komplikasinya.
Usaha menjaga kesehatan ini antara lain berupa makan makanan yang bernilai gizi baik, minum banyak, istirahat yang cukup, rekreasi dan olahraga yang sesuai. Penderita dianjurkan banyak minum kecuali bila dilarang dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung atau ginjal yang berat. Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada di saluran pernapasan, sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila penderita kurang minum, dahak akan menjadi sangat kental, liat dan sukar dikeluarkan.
Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita yang kekurangan cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat yang berlebihan, kurang minum dan penguapan cairan yang berlebihan dari saluran napas akibat bernapas cepat dan dalam.

  1. Menjaga kebersihan lingkungan

Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi timbulnya serangan penyakit asma. Keadaan rumah misalnya sangat penting diperhatikan. Rumah sebaiknya tidak lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari. Saluran pembuangan air harus lancar. Kamar tidur merupakan tempat yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebaiknya kamar tidur sesedikit mungkin berisi barang-barang untuk menghindari debu rumah. Hewan peliharaan, asap rokok, semprotan nyamuk, atau semprotan rambut dan lain-lain mencetuskan penyakit asma. Lingkungan pekerjaan juga perlu mendapat perhatian apalagi kalau jelas-jelas ada hubungan antara lingkungan kerja dengan serangan penyakit asmanya.

  1. Menghindari Faktor Pencetus

Alergen yang tersering menimbulkan penyakit asma adalah debu sehingga cara-cara menghindari debu rumah harus dipahami. Alergen lain seperti kucing, anjing, burung, perlu mendapat perhatian dan juga perlu diketahui bahwa binatang yang tidak diduga seperti kecoak dan tikus dapat menimbulkan penyakit asma. Infeksi virus saluran pernapasan sering mencetuskan penyakit asma. Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-orang yang sedang terserang influenza. Juga dianjurkan menghindari tempat-tempat ramai atau penuh sesak. Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu udara yang ekstrim, berlari-lari mengejar kendaraan umum atau olahraga yang melelahkan. Jika akan berolahraga, lakukan latihan pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah serangan penyakit asma.
Zat-zat yang merangsang saluran napas seperi asap rokok, asap mobil, uap bensin, uap cat atau uap zat-zat kimia dan udara kotor lainnya harus dihindari. Perhatikan obat-obatan yang diminum, khususnya obat-obat untuk pengobatan darah tinggi dan jantung (beta-bloker), obat-obat antirematik (aspirin, dan sejenisnya). Zat pewarna (tartrazine) dan zat pengawet makanan (benzoat) juga dapat menimbulkan penyakit asma.

Menggunakan obat-obat antipenyakit asma

Pada serangan penyakit asma yang ringan apalagi frekuensinya jarang, penderita boleh memakai obat bronkodilator, baik bentuk tablet, kapsul maupun sirup. Tetapi bila ingin agar gejala penyakit asmanya cepat hilang, jelas aerosol lebih baik. Pada serangan yang lebih berat, bila masih mungkin dapat menambah dosis obat, sering lebih baik mengkombinasikan dua atau tiga macam obat. Misalnya mula-mula dengan aerosol atau tablet/sirup simpatomimetik (menghilangkan gejala) kemudian dikombinasi dengan teofilin dan kalau tidak juga menghilang baru ditambahkan kortikosteroid. Pada penyakit asma kronis bila keadaannya sudah terkendali dapat dicoba obat-obat pencegah penyakit asma. Tujuan obat-obat pencegah serangan penyakit asma ialah selain untuk mencegah terjadinya serangan penyakit asma juga diharapkan agar penggunaan obat-obat bronkodilator dan steroid sistemik dapat dikurangi dan bahkan kalau mungkin dihentikan

  1. Penatalaksanaan

Prinsip umum dalam pengobatan pada asma :

a.Menghilangkan obstruksi jalan nafas

b.Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma.

c.Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan  maupun penjelasan penyakit.

Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas :

a. Pengobatan dengan obat-obatan

Seperti :

  • Beta agonist (beta adrenergik agent)
  • Methylxanlines (enphy bronkodilator)
  • Anti kolinergik (bronkodilator)
  • Kortikosteroid
  • Mast cell inhibitor (lewat inhalasi)

b. Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, misalnya :

  • Oksigen 4-6 liter/menit.
  • Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nebulezer dan pemberiannya dapat diulang setiap 30 menit-1 jam. Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan perlahan.
  • Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam.
  • Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat
  1. Pengkajian

Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut:

a. Riwayat kesehatan yang lalu:

4  Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya.

4  Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan.

4  Kaji riwayat pekerjaan pasien.

b. Aktivitas

4  Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas.

4  Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan

aktivitas sehari-hari.

4  Tidur dalam posisi duduk tinggi.

c. Pernapasan

4  Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.

4  Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur.

4  Menggunakan obat bantu pernapasan, misalnya: meninggikan bahu, melebarkan

hidung.

4  Adanya bunyi napas mengi.

4  Adanya batuk berulang.

d. Sirkulasi

4  Adanya peningkatan tekanan darah.

4  Adanya peningkatan frekuensi jantung.

4  Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis.

4  Kemerahan atau berkeringat.

e.  Integritas ego

4  Ansietas

4  Ketakutan

4  Peka rangsangan

4  Gelisah

f. Asupan nutrisi

4  Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.

4  Penurunan berat badan karena anoreksia.

g. Hubungan sosial

4  Keterbatasan mobilitas fisik.

4  Susah bicara atau bicara terbata-bata.

4  Adanya ketergantungan pada orang lain.

  1. Diagnosa Keperawatan
  1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus.
  2. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
  3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan serangan asma menetap.
  4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
  5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
  6. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.

Evaluasi

  1. Jalan nafas kembali efektif.
  2. Pola nafas kembali efektif.
  3. Pasien dapat meningkatkan pertukaran gas.
  4. Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.
  5. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
  6. Pengetahuan  tentang penyakit menjadi bertambah.

maaff tidak berisi intervensi dan patwayyyy ya,,,,,,?????soalna terkadang tidak keliatan,,,,,,,padahal ada koghhh,,^^